
Oleh: Cecep Iwan Ridwan, S.Th.I, M.Pd.
Kabid Idaroh DKMA Baiturrohman Kab. Tasikmalaya
ALLAH menciptakan waktu bagi kehidupan manusia agar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ada waktu-waktu istimewa yang sangat mudah bagi siapa pun untuk meraih keutamaanya. Itulah yang disebutkan oleh Nabi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Shahihnya.
Abu Hurairah menuturkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “… dan minta pertolonganlah kalian kepada Allah dengan memanfaatkan waktu pagi, waktu petang, dan sedikit waktu akhir malam,” (HR. Al-Bukhari).
Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan tiga waktu yang istimewa, yaitu: ghadwah (pagi), rauhah (sore) dan duljah (akhir malam).
Imam Ibnu Hajar menjelaskan, “Manfaatkanlah ghadwah, yakni bantulah diri kalian agar bisa mendawamkan ibadah dengan mengerjakannya pada waku-waktu yang menyegarkan.
Ghadwah artinya waktu pagi, yaitu waktu antara waktu fajar hingga terbit matahari. Sedangkan rauhah artinya akhir siang yaitu waktu sore. Adapun duljah adalah waktu akhir malam.
Allah telah menyebutkan tiga waktu ini dalam beberapa Alquran. Antara lain; “Dan bertasbihlah dengan memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbihlah pula pada waktu malam dan pada waktu-waktu penghujung siang agar kamu merasa bahagia,” (QS. Thaaha: 130).
“Dan sebutlah nama Rabbmu pada waktu pagi dan petang dan pada sebagian waktu malam, maka bersujudlah kepadaNya dan bertasbihlah kepadaNya pada bagian yang panjang di malam hari,” (QS. Al-Insan: 25-26).
Disebutkannya tiga waktu ini secara khusus tentu menunjukkan keutamaan dan keistimewaanya. Ketika menjelaskan hadits di atas, Imam Ibnu Hajar mengatakan, “Tiga waktu ini adalah waktu favorit bagi para musafir; seakan Nabi Saw. hendak mengajak bicara para musafir dan mengingatkan mereka tentang waktu berharga mereka. Karena jika mereka berjalan terus menerus siang dan malam, maka mereka akan diserang kelelahan dan tak sanggup melanjutkan perjalanan. Namun jika mereka memanfaatkan tiga waktu ini dengan baik, maka mereka akan bisa berjalan dengan semangat yang tetap terjaga, tanpa mengalami kesulitan berarti. Ungkapan ini adalah permisalan yang indah karena sejatinya hidup ini adalah perjalanan menuju akhirat.”
Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly menerangkan, “Dalam tiga waktu tersebut ada amalan yang wajib yang sunnah; pada dua waktu pagi dan sore ada salat Subuh dan salat Ashar yang merupakan salat yang paling utama, disebut dalam hadits Nabi dengan istilah al-bardan, siapa yang menjaganya maka dia akan dijamin surga. Adapun amalan sunnah adalah dzikir pagi setelah subuh hingga terbit matahari, dan dzikir petang dari bakda Ashar hingga tenggelam matahari.
Dalam banyak hadits disebutkan tentang keutamaan dzikir pagi dan petang, sebagaimana dalam riwayat dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Saw. bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai anak Adam, berdzikirlah kepadaku pada awal siang dan akhirnya, maka Aku ampuni untukmu dosa-dosa di antara keduanya.”
Dalam hadits lain disebutkan, “Berdzikir pada waktu pagi lebih aku sukai daripada membebaskan dua orang budak. Dan berdzikir pada waktu sore lebih aku sukai dari pada membebaskan empat orang budak,” (HR. Al-Baihaqi).
Para salaf lebih kuat perhatiannya kepada akhir hari (waktu sore) daripada pagi hari. Disebutkan bahwa Imam Ibnu Mubarak mengatakan, “Siapa yang menutup harinya dengan dzikrullah maka dia dicatat berdzikir sepenuh hari.”
Demikianlah sore hari Jumat lebih utama dari pada pagi harinya, karena waktu sore adalah waktu diijabahinya dosa, sore hari Arafah lebih utama dari pada pagi harinya, karena waktu sorenya adalah waktu untuk wuquf, dan akhir malam lebih utama dari pada awalnya.
Adapun duljah yaitu akhir malam. Maksudnya adalah penghujung malam yang akhir. Waktu yang utama untuk memperbanyak istighfar dan permohonan ampun kepada Allah. Allah berfirman, “Dan pada waktu Sahur mereka memohon ampun,” (QS. Adz-Dzariyat: 18).
Imam Ibnu Rajab berkata, “Akhir malam adalah akhir waktu turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia untuk mengabulkan permohonan hamba-hambaNya yang meminta, pengampunan bagi para pendosa yang bertaubat. Adapun pertengahan malam adalah waktu bagi para pecinta untuk menyendiri dengan kekasihnya (Allah), adapun akhir malam adalah untuk para pendosa yang di pertengahan malam, maka hendaknya membersamai para pendosa dengan taubatnya.”
“Siapa yang mezalimi istighfar maka Allah akan memberikan kepadanya jalan keluar dari setiap kesulitan, mendapatkan kelapangan dari setiap kegundahan, dan diberikan rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka,” (HR.Abu Dawud).
Yang sungguh merugi adalah mereka yang tidak kuasa menghidupkan malam-malamnya dengan qiyam dan bacaan Alquran, dan tidak pula memanfaatkan waktu Sahurnya untuk beristighfar dan berdoa, tidak pula waktu pagi dan sorenya dengan berdzikir kepadaNya.
Alangkah indah nasihat yang disampaikan oleh Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, katanya, “Jika kamu tidak kuasa membersamai para pecinta yang berkhawat di tengah malam bersama Rabbnya, maka temanilah para pendosa yang larut dengan istghfar dan taubat di akhir malamnya.”
| Status Lokasi | Milik Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya |
| Tahun Berdiri | Februari 2011 |